Senin, 18 Desember 2017

TUGAS MAKALAH RESUM PENGANTAR MANAJEMEN

RESUME PENGANTAR MANAJEMEN




 MATERI 
1.         Konsep dasar manajemen
2.      Perkembangan konsep dasar manajemen
3.      Perencanaan
4.      Perorganisasian
5.     Pengarahan

  

DISUSUN OLEH: FRIDA WATI


BAB I

Konsep Dasar Manajemen
A.     Pengertian manajemen
 sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip Manajemen, baik langsung maupun tidak langsung. Baik di sadarai ataupun tidak disadari. Ilmu Manajemen ilmiah timbul pada sekitar awal abad ke 20 di benua Eropa barat dan Amerika. Dimana di negara-negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri.

a.       James A.F. Stoner, manajen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengawasan anggota organisasi dan proses penggunaan semua sumber daya yang ada untul dicapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan
b.      George R. terry : manajemen adalah sebuah proses yang khas, terdiri dari kegiatan perencanaan. Pengorganisasian, menggerakan dan pengawasan yang dilaksankan untukmenentukan serta mencapai sasaran yang telah ditetapkan dengan bantuan manusia dan sumber-sumber daya yang lain.
Dari definisi-definisi yang ada di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen adalah ilmu dan seni perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengkoordinasian, dan pengendalian atas sumber daya, terutama SDM untuk mencapai tujuan organisasi yang  telah ditetapkan terlebih dahulu.


B.      Manajemen dan Organisasi

Organisasi adalah kelompok orang yang mempunyai kegiatan yang mempunyai kegiatan dan bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan
a.       Hubungan antara komponen organisasi:
1.       Tujuan
2.       Fungsi
3.       Tanggung jawab
4.       Wewenang
5.       Pertanggung jawaban

b.      Fungsi manajemen terdiri atas:
1.       Perencanaan (Planning)
2.       Pengorganisasian (Organizing0
3.       Penggerakan (Actuating)
4.       Pengawasan (controlling)

          1. Perencanaan adalah penentuan serangkaian tindakan berdasarkan pemilihan dari berbagai alternative data yang ada, dirumuskan dalam bentuk keputusan yang akan dikerjakan untuk masa yang akan dating dalam usaha mencapai tujuan yang diinginkan.
Perencaaan memiliki beberapa bentuk, yaitu:
a.       Sasaran
b.      Kebijakan
c.       Prosedur
d.      Aturan
e.      Program
         2. Organisasi adalah kelompok orang yang mempunyai kegiatan dan bekerja bersama-sama untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Organisasi bukanlah suatu tujuan, tetapi sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Pengorganisasian adalah sebagai proses penciptaan hubungan antara fungsi-fungsi, peronalia, dam faktor fisik agar kegiatan-kegiatan yang harus dilaksanakan disatukan daan diarahkan pada pencapaian tujuan bersama.
      3. Pergerakan adalah kegiatan yang dilakukan oleh pimpinan untuk menggerakan, membimbing, mengatur segala kegiatan yang telah diberi tugas dalam melaksanakan suatu kegian usaha organisasi.
a.       Mengembangkan rasa tanggung jawab
b.      Pemberian komando
c.       Mengadakan pengamatan atas pekerjaan dan aktivitas bawahan langsung
d.      Pemelihara moral dan disiplin
e.      Human relation
f.        Leadership
g.       Pengembangan eksekutif
Pengawasan dapat diartikan sebagai suatu kegiatan mendetermunasikan apa-apa yang telah dilaksanakan sesuai dengan perencana yang ada dalam suatu kegiatan organisasi denngan tujuan untukn segera mengetahui kemungkinan terjadinya hambatan dan penyimpangan, sekaligus mengadakan koreksi untuk memperlancar tercapainya tujuan.
Fungsi ini akan menjamin bahwa kegitan-kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang diinginkan.

Pelaksanaan pengawasan meliputi kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan hasil yang diinginkan.
Pelaksanaan pengawasan meliputi kegiatan-kegiatan berikut :
·         Menentukan standar
·         Mengukur dan membandingkan
·         Memperbaiki penyimpangan, jika ada   BAB II


Perkembangan Konsep Manajemen
A.     Pengembangan konsep manajemen
         Teori dan prinsip manajemen memberikan kemudahan dalam menentukan sesuatu yang harus di kerjakan dengan cara efektif menjadi seorang manajer,dan dapat juga diartikan sebagai fungsi manajemen. Selain itu manajer dapat mengelola sebuah otoritas  tanpa menggunakan teori dan prinsip, aktivitas berjalan hanyalah intuisi, firasat dan harapan sehingga hasilnya tidak akan memberikan kepuasan berbagai pihak.
Terdapat tiga mazhab, pertama mazhab klasik yang terbagi menjadi dua cabang, yaitu manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik, kedua mazhab perilaku, dan ketiga mazhab ilmu manajemen.
1.       Mazhab Manajemen Klasik
Telah terjadi revolusi industri pada abad ke-19, yang menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan suatu pendekatan manajemen yang sistematik. Usaha-usaha pengembangan manajemen kemudian dilakukan oleh para teoritisi. Pembahasan perkembangan teori-teori dan prinsip-prinsip manajemen klasik selanjutnya akan dilakukan dengan menguraikan para tokoh dan gagasan-gagasan mereka.

Aliran ini muncul akibat adanya kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi. Penekanannya pada bagaimana menemukan cara terbaik untuk menyelesaikan pekerjaan yang dilakukan dengan cara menguji bagaimana sesungguhnya proses kerja dilakukan serta keahlian apa yang dibutuhkan oleh pekerja dalam proses kerja tersebut. Aliran ini banyak berhutang pada sejumlah pemikir dominan seperti Robert Owen, Charles Babbage, Frederick W. Taylor, Henry L. Gantt, serta Frank dan Lillian Gilbreth (pasangan Gilbreth).

1.       Robert Owen
Robert Owen hidup pada tahun 1771-1858.Pada tahun 1800-an ia adalah seorang manajer pada beberapa pabrik pemintal kapas di New Lanarls, Skotlandia. Pengalaman memimpin dalam perusahaan dapat menyentuh hatinya untuk menyediakan perumahan yang layak bagi bawahannya.
Selain bertindak sebagai inovator dengan cara melakukan perbaikan menyeluruh pada kondisi kerja dalam pabrik yang dipimpinnya ia juga menetapkan mekanisme kerja spesifik yang mampu memberikan dampak meningkatnya produktivitas. Dia mengemukakan perbaikan karyawanlah yang akan menaikkan produksi dan keuntungan (laba) dan investasi yang paling menguntungkan adalah karyawan atau “vital machines”


2.       Charles Babbage
Charles Babbage hidup pada tahun 1792-1871. Dasar keyakinan babbage bahwa aplikasi prinsip ilmiah pada proses kerja akan meningkatkan produktivitas dan menekan biaya. Prinsip pembagian kerja adalah karya babbage. setiap bawahan di didik dengan satu keterampilan spesifik dan hanya di berikan tanggung  jawab dari sebagian proses,untuk meningkatkan efesiensi dapat juga dilakukan dengan pekerjaan yang sama untuk menciptakan ketrampilan bawahan Babbage berkeyakinan bahwa setiap pekerjaan dalam pabrik harus dipecah sehingga berbagai ketrampilan yang terlibat dapat dipisahkan.

3.       Frederik W. Taylor ( bapak manajemen ilmiah)
Manajemn ilmiah timbul disebabkan karena adanya kebutuhan untuk meningkatkan produktivitas.
4 prinsip dasar dari Taylor :
1.       Pengembangan manajemen ilmiah yang sebenarnya sehingga metode yang terbaik untuk
        melakukan setiap pekerjaan dapat ditentukan.
2.       Seleksi secara ilmiah terhadap para pekerja sehingga setiap pekerja dapat diberi tanggung jawab atas tugas yang paling cocok baginya.
3.       Pendidikan dan pengembangan ilmiah untuk bawahan
4.       Kerjasama yang erat dan bersahabat antara manajemen dan bawahan

4.       Herry L. Gantt
a.       Menggunakan gagasan
b.      Kerjasama yang saling menguntungkan antara tenaga kerja dan manajemen
c.       Seleksi ilmiah tenaga kerja  sistem insentif (bonus) untuk merangsang produktifitas
d.      Penggunaan industri-industri kerja yang terperinci
            Kontribusinya yang terbesar adalah penggunaan metode grafik (‘bagan Gantt”), yang   memperkenalkan sistem baru untuk penggambaran jadwal produksi.
 
5.      Pasangan Gilberth
                 Berpendapat bahwa studi gerak akan meningkatkan semangat kerja bagi bawahan karena keuntungan fisiknya yang nyata dan karena dapat menunjukkan perhatian manajemen pada para bawahan.

B.      Teori Organisasi Klasik Cabang Mazhab Klasik kedua, Henry fayol (1841-19250)

         Timbulnya organisasi klasik sebagai dampak dari adanya organisasi yang kompleks. Fayol berpendapat bahwa praktik manajemen yang baik memiliki suatu pola tertentu yang dapat diidentifikasikan dan dianalisis. Kontribusi besar bagi pola fikir manajemen menurut fayol adalah manajemen bukanlah suatu bakat, tetapi suatu ketrampilan seperti halnya ketrampilan lainnya.
Dalam usahanya mengembangkan ilmu manajemen, fayol memulainya dengan membagi perusahaan menjadi 6 aktivitas yang saling bergantung.
1)      Fungsi teknis (technical), yaitu memproduksi dan membuat produk
2)      Fungsi komersial (commercial), yaitu membeli bahan baku dan menjual produk
3)      Fungsi finansial (financial), yaitu memperoleh dan menggunakan modal
4)      Fungsi keamanan (security), yaitu melindungi para bawahan dan aktiva perusahaan
5)      Fungsi akuntansi (accounting), yaitu mencatat dan mengecek biaya, keuntungan, dan       utang-utang, menyiapkan neraca, serta menghimpun statistik
6)      Fungsi manajerial ( managerial).

Prinsip manajemen yang dikembangkan fayol yang mendasari perilaku manajerial yang efektif adalah :
a.       Pembagian kerja (division of labor)
b.      Otoritas (authority)
c.       Disiplin (discipline)
d.      Kesatuan perintah (unity of command)
e.      Kesatuan arah (unity of direction)
f.        Menomorduakan kepentingan pribadi diatas kepentingan umum (subordination of     individual interest to the common goals)
g.       Pemberian upah (remuneration)
h.      Sentralisasi (centralization)
i.         Hierarki (hierarchy)
j.        Tertib (order)
k.       Keadilan (equity)
l.         Kestabilan staf (stability of staff)
m.    Inisiatif (initiatif)
n.      Semangat korps (esprit de corps).


2.       Mazhab Berperilaku
Munculnya mazhab perilaku disebabkan para manajer menemukan bahwa dengan pendekatan klasik, efisiensi produksi dan keselarasan kerja yang sempurna tidak dapat diwujudkan. Seringkali para bawahan kurang mengikuti pola perilaku yang rasional dalam mengoperasikan pekerjaannya.

3.       Mazhab Ilmu Manajemen

1.       Lensis Likert dan Edgar Schein (riset operasi)
             Mazhab ilmu manajemen dilatarbelakangi oleh lahirnya Riset operasi (operations research/OR). Perkembangan berikutnya, OR diaplikasikan untuk menghadapi permasalahan industri sehingga teknologi industri mulai digunakan. Perkembangan komputer memberikan dampak dirumuskannya prosedur OR menjadi mazhab ilmu manajemen.  Teknik ilmu manajemen diaplikasikan dalam aktivitas yang sangat luas, misalnya penganggaran modal (capital budgeting), penjadwalan produksi (production scheduling), perencanaan program pengembangan bawahan, pengembangan strategi produk, dsbnya.

      Mazhab ilmu perilaku dan mazhab ilmu manejemen, keduanya merupakan pendekatan yang penting dan penuh semangat terhadap penelitian, analisis, dan pemecahan permasalahan manajemen. Oleh karena itu, teori klasik tetap penting artinya karena kenyataan menunjukan bahwa teori tersebut mampu memadukan perkembangan yang lebih baru menjadi desain dasar permasalahan tradisional yang di identifikasikan oleh para pengamat mazhab klasik. Sering kali terdapat beberapa individu yang berusaha memadukan respektif dari semua mazhab. Manfaat yang diharapkan dari mempelajari perkembangan dan respektif ke-3 mazhab adalah agar kelak calon manajer mampu memahami prespektif koleganya. Demikian juga, ia mampu mempersiapkan kerjasama dengan mereka secara efektif. Adanya integrasi prespektif merupakan suatu pendekatan konseptual yang menjanjikan bagi spesialisasi manajemen. Dua prespektif untuk integrasi tersebut adalah pendekatan system dan pendekatan kontingensi. Pendekatan system terhadap manajemen memandang bahwa organisai sebagai sebuah system yang terpadu dengan maksud tertentu terdiri atas komponen-komponen yang saling berhubungan. Pendekatan system ini tidak secara terpisah berhubungan dengan berbagai komponen dari suatu organisasi, tetapi memberikan kepada manajer suatu cara memandang terhadap organisasi sebagai keseluruhan yang utuh dan sebagai komponen dari yang lebih besar. Pendekatan kontingensi yang dikembangkan oleh para manajer diusahakan untuk menerapkan konsep-konsep mazhab utamakedalam situasi nyata. Tugas manajer adalah mengidentifikasi teknik mana yang dalam situasi tertentu dan pada waktu tertentu akan paling baik memberikan kontribusi pada pencapaian tujuan organisasi.

Konsep Dasar Manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia, mengapa demikian karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip Manajemen, baik langsung maupun tidak langsung. Baik di sadarai ataupun tidak disadari. Ilmu Manajemen ilmiah timbul pada sekitar awal abad ke 20 di benua Eropa barat dan Amerika. Dimana di negara-negara tersebut sedang dilanda revolusi yang dikenal dengan nama revolusi industri.
Yaitu perubahan-berubahan dalam pengelolaan produksi yang efektif dan efisien. Hal ini dikarenakan masyarakat sudah semakin maju dan kebutuhan manusia sudah semakin banyak dan beragama sejenisnya.
Sekarang timbul suatu pertanyaan “siapa sajakah yang sebenarnya memakai Manajement “ apakah hanya digunakan di perusahaan saja atau apakah di pemerintahan saja. Managment diperlukan dalam segala bidang. Bentuk dan organisasi serta tipe kegiatan. Dimana orang-orang saling bekerja sama untuk mencapai suatu tujuan yang telah ditetapkan.



C.     Perkembangan Konsep Manajemen
Teori dan prinsip manajemen memberikan kemudahan dalam menentukan sesuatu yang harus di kerjakan dengan cara efektif menjadi seorang manajer,dan dapat juga diartikan sebagai fungsi manajemen. Selain itu manajer dapat mengelola sebuah otoritas  tanpa menggunakan teori dan prinsip, aktivitas berjalan hanyalah intuisi, firasat dan harapan sehingga hasilnya tidak akan memberikan kepuasan berbagai pihak.
Terdapat tiga mazhab, pertama mazhab klasik yang terbagi menjadi dua cabang, yaitu manajemen ilmiah dan teori organisasi klasik, kedua mazhab perilaku, dan ketiga mazhab ilmu manajemen.
BAB III


  Perencanaan
         A.Pengertian Perencanaan
Perencanaan adalah penentuan tujuan pokok (tujuan utama) organisasi beserta cara-cara untuk mencapai tujuan tersebut. Pendek kata pengertian perencanaan manajemen adalah serangkaian penetapan tujuan yang akan dicapai dan pimilihan usaha-usaha mana saja yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan tersebut.
Masing-masing orang memberikan pemahaman yang berbeda sesuai dengan bidang yang mereka kaji dan amati dalam perencanaan. Namun, dalam konteks ini perencanaan diartikan sebagai suatu proses menetapkan tujuan dan sasaran, menentukan pilihan-pilihan tindakan yang akan dilakukan dan mengkaji cara-cara terbaik untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
pengertian perencanaan manajemen menerut para ahli lainya, yaitu:
·         Pengertian perencanaan manajemen adalah proses perumusan satu atau lebih rencana untuk mencapai titik keseimbangan yang optimal antara kebutuhan (tuntutan) dengan sumber daya yang  tersedia. Proses perencanaan manajemen meliputi:
1)      Mengidentifikasi tujuan sasaran yang ingin dicapai,
2)      Merumuskan strategi untuk mencapainya
3)      Mengatur atau menciptakan sarana yang diperlukan
4)      Dan menerapkan, mengarhkan, dan memantau semua langkah supaya tetap berada di jalur yang tepat.
·         Definisi perencanaan manajemen adslsh proses mengukur seberapa jauh tujuan organisasi dan membuat tujuan tersebut menjadi nyata melalui serangkaian tindakan tepat dan relevan dengan mempertimbangkan strategi jangka pendek dan jangka panjang perusahaan.
·         Perencanaan manajemen adalah  perencanaan untuk mengurangi risiko ketidakpastian dengan mengurangi risiko ketidak pastian apa yang organisasi ingin capai dan bagai mana cara mencapai tujuan tersebut di masa depan dan masa depan. Perencanaan selalu dilakukan untuk masa depan dan masa depan adalah hal yang tidak pasti. Dengan bantuan perencanaan manajemen, kemungkinan perubahan di masa yang akan dating dapat diantisipasi dengan cara yang terbaik. Dengan cara ini, risiko ketidakpastian masa depan dapat diminimalkan.
Perencanaan mengandung beberapa arti antara lain

a)      Proses. Yaitu suatu konsep dasar yang menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan akan berjalan sesuai dengan tahap-tahap yang di tentukan.dalam hal ini kegiatan dalam perencanaan dilakukan menurut proses yang berlaku.
b)      Penetapan tujuan dan sasaran. Yaitu kegiatan merencanakan ke arah mana organisasi dapat menetapkan tujuan nya secara khusus ataupun umum,tujuan jangka panjang maupun tujuan jangka pendek.
c)       Pemilihan tindakan. Yaitu organisasi harus mengoptimalkan pada beberapa tindakan yang efktif ketimbang harus menggunakan semua tindakan yang kadang kala tidak efektif.
d)      Mengakaji cara terbaik. Walaupun pilihan tindakan itu sudah dianggap baik namun bisa saja tetap tidak efektif kalau dilakukan dengan cara kurang baik.sebaliknya,sesuatu yang baik apabila dilakukan dengan cara yang baik pula maka akan menghasilkan sesuatu yang efektif.
e)      Tujuan . Hal ini menyangkut hasil akhir atau sasaran khusus yang diinginkan oleh organisasi.keinginan itu bisa dinyatakan dalam suatu standar-standar yang berlaku baik kualitatif maupun kuantitatif.


Banyak faktor yang mempengaruhi pentingnya pembuatan suatu perencanaan antara lain; perubahan ekonomi, kemajuan teknologi, perubahan iklim, perubahan selera konsumen, gejolak politik, dan sistem keamanaan yang tidak terjamin memberikan banyak tantangan yang harus dihadapi walaupun penuh dengan resiko.

Selain untuk lebih memantapkan arah bagi organisasi dalam mencapai tujuannya, perencanaan juga memiliki peranan penting lainnya, seperti:
      1)      Untuk mengkooordinasikan usaha-usaha
Didalam suatu organisasi pekerjaan-perkerjaan dilakukan individu dan kelompok yang memiliki tujuan dan kepentingan yang berbeda-beda. Maka perlu dilakukan koordinasi, agar tujuan dan kepentingan itu tidak keluar dari tujuan organisasi.
     2)      Untuk mengatasi perubahan
Dengan adanya perencanaan yang matang maka perubahan-perubahan potensial yang akan terjadi akan dapat diantisipasi secepat mungkin.
     3)      Untuk pengembangan manajer
Manajer harus bertindak proaktif dan membuat hal-hal terjadi dan bukan sebaliknya, bertindak rekatif dan membiarkan hal-hal terjadi. Tindakan perencanaan akan mempertajam kemampuan manajer untuk berfikir ketika mereka mempertimbangkan gagasan-gagasan abstrak dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.
     4)      Untuk pengembangan standar kinerja
Keberhasilan yang dicapai pada masa lalu akan menjadi standar kinerja untuk masa yang akan datang. Tanpa perencanaan, standar performa mungkin menjadi tidak rasional dan subjektif.


          A.     Tipe-tipe perencanaan
              Pengklasifikasian perencanaan telah banyak dilakukan oleh para ahli. Apapun bentuk pengklasifikasian itu, perencanaan jelas saling terkait antara satu jenis perencanaan lainya.beberapa tipe-tipe perencanaan yang dimaksud, perencanaan berdasarkan jangkauan dibagi menjadi  dua, yaitu:
§          Rencana strategic adalah rencana yang diterapakan pada organisasi secara keseluruhan dan mnetapkan tujuan keseluruhan oraganisasi. Rencana strategis dapat dipandang sebagai rencana secara umum yang menggambarkan pengalokasian sumber daya, prioritas, dan langkah-langkah yang diperlukan untuk mencapai tujuan strategis.
§       Rencana operasional adalah rencana yang meliputi area operasional tertentu dari sebuah organisasi.

 Perencanaan berdasarkan kerangka waktu terbagi menjadi dua yaitu:
·         Rencana jangka panjang adalah rencna yang mempunyai jangka waktu lebih dari 3 tahun.
·         Rencana jangka pendek adalah rencana yang berjangka waktu kurang dari 1 tahun.

               Perencanaan berdasarkan spesifisitas terdari dari dua yaitu:
§            Rencana spesific adalah rencana yang didefinisikan secara jelas dan tidak memberikan ruang bagi       interpretasi.
§            Rencana fleksibel yang menentukan panduan umum, memberikan fokus tetapi tidak membatasi             manajer padaa tujuan spesifikasi atau serangkaian tindakan

                 berdasarkan frekuensi penggunaan , dibagi menjadi dua yaitu:
· Rencana sekali pakai adalah rencana satu kali yang secara spesific didisain untuk memenuhi kebutuhan dalam situasi yang unik.
·    Rencana siaga adalah rencana berkelanjutan yang memberikan panduan untuk aktivitas yang dilakukan


         B.      Proses Penyesunan Perencanaan
Perencanaan sebagai suatu proses merupakan suatu cara yang sistematis untuk menjalankan suatu pekerjaan. Dalam perencanaan terkandung suatu aktivitas tertentu yang saling terkait untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Proses penyusunan perencanaan itu terdiri dari:
1.       Merumuskan misi dan tujuan
2.       Memahami keadaan saat ini
3.       Mempertimbangkan faktor pendukung dan penghambat tercapainya tujuan
4.       Menyusun rencana kegiatan untuk mencapai tujuan


                C.   Pendekatan Dalam Perencanaan
Terdapat berbagai macam pendekatan-pendekatan yang dapat dipergunakan dalam proses penyusunan perencanaan. Pendekatan tersebut diantaranya adalah:
–  Pendekatan perncanaan Inside – out Dan perencanaan outside – in.
–  Pendekatan perencanaan Top – Down dan perencanaan bottom – up.
–  Pendekatan perncanaan contingency


                D.  Perbedaan Tujuan dan Rencana
Perencanaan sering disebut fungsi manajemen yang utama karena menentukan dasar untuk semua hal lainnya yang dilakukan para manajer ketika mengelola,memimpin,dan mengendalikan.perencanaan melibatkan dua aspek penting yaitu,tujuan dan rencana.

Tujuan adalah hasil yang diingankan atau target.hal itu memandu keputusan manajemen dan membentuk kriteria terhadap hasil kerja yang diukur.karena itulah tujuan sering disebut dasar perencanaan. Sedangkan, rencana adalah dokumen yang menentukan kerangka bagaimana tujuan itu akan terpenuhi.

  • Jenis-Jenis Tujuan

a. Tujuan yang dinyatakan adalah pernyataan resmi tentang apa yang dikatakan   organisasi dsn yang ingin diyakini para pemangku kepentiingan tentang         tujuannya.
b.   Tujuan riil adalah tujuan yang secara aktual dikejar oleh organisasi,seperti yang di definisikan oleh tindakan para anggotanya.

            E. Masalah kontemporer Dalam Perencana

             Perencanaan formal organisasi telah menjadi populer pada tahun 1960 an dan sebagaian besar masih populer hingga dewasa ini.Masuk akal bagi sebuah organisasi untuk menetapkan target dan beberapa arahan.tetapi kita telah menentang beberapa asumsi dasar perencanaan :
1.       Perencanaan dapat menyebabkan kekakuan.
Perencanaan formal dapat mengunci organisasi ke tujuan spesifik yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu.
2.       Rencana tidak dapat dikembangkan untuk lingkungan yang dinamis.
 Lingkungan bisnis saat ini sering kali bersifat acak dan tidak dapat diprediksi. Mengelola pada kondisi seperti ini akan membutuhkan fleksibiltas dan hal itu dapat berarti tidak terikat pada rencana formal.
3.       Rencana formal tidak dapat mengganti intuisi dan kreatifias.
Organisasi sering kali mengalami kesuksesan karena visi inovatif sesorang dan usaha perencanaan mungkin menghalangi visi seperti itu.
4. Perencanaan memfokuskan perhatian manajer pada persaingan dewasa ini,bukan kemampuan bertahan hidup esok.
Perencanaan formal mempunyai kecendurungan untuk berfokus pada bagaimana mengkapitalisasi peluang bisnis yang ada dalam sebuah industri, tetapi tidak memungkinkan manajer untuk mempertimbangkan penciptaan atau penciptaan-ulang sebuah industri.konsekuensinya, rencana formal dapat menghasilkan kesalahan yang mahal pada saat kompetitor lain mengambil alih pimpinan.
5. Perencanaan formal memeperkuat kesuksesan,yang dapat menimbulkan kesalahan.
Kesuksesan dapat melahirkan kegagalan dalm melahirkan kegagalan dalam lingkungan yang tidak pasti.sulit untuk mengubah rencana yang telah terbukti di masa lalu. Rencana yang berhasil dapat memberikan perasaan yang palsu tentang keamanan, yang mempertebal keercayaan diri atas rencana formal ketimbang yang dijaminkan.
6.       Hanya perencanaan belumlah cukup
Tidak cukup bagi manajer cukup hanya merencanakan. Anda harus mencanangkan rencana ke dalam gerakan dan melakukannya.


         F.   Perencanaan Yang Efektif Dalam Lingkungan Dinamis

Lingkungan eksternal berubah terus-menerus. Sebagai contoh, WiFi telah merevolusi semua jenis industri, mulai dari penerbangan hingga manufaktur mobil ke manufaktur mobil ke super market. Perusahaan menggunakan internet untuk desain produk yang diinginkan pelanggan. Jumlah yang di belanjakan untuk makan di luar ketimbang memasak rumah diperkirakan akan turun. Harga minyak mentah telah mencapai rekor tertingginya. Dan para ahli percaya bahwa China dan India akan mentransformasikan perokonomian global pada abad dua puluh satu. Bagaimana manajer merencanakan secara efektif apabila lingkungan eksternal berubah terus-menerus?

Dalam lingkungan yang tidak pasti, manajer harus mengembangkan rencana yang spesifik tetapi fleksibel. Walaupun hal ini mungkin terlihat bertolak belakang, namun rencana membutuhkan spesifikasi. Rencana berfungsi sebagai peta jalan, walaupun tujuannya dapat berubah karena kondisi pasar yang dinamis. Manajer harus siap untuk mengubah arah apabila kondisi lingkungan mengharuskannya.
   
            G.     Hambatan Dalam Penetapan Tujuan dan Cara Mengatasi

1. Efektifitas penting bagi seorang manajer, seringkali dalam pengembangan perencanaan yang efektif manajer mengalami hambatan – hambatan. Terdapat dua hambatan utama dalam pengembangan rencana yang efektif, yaitu : Penolakan dari dalam diri perncanaan terhadap penetapan tujuan dan pembuatan rencana untuk mencapainya.Hambatan dalam Penetapan Tujuan dan Perencanaan mencapainya.
David A. Kolb dan kawan – kawan mengemukakan beberapa alasan mengapa manajer ragu – raguatau seringkali gagal dalam menetapakan tujuan organisasi
a.)    Keengganan melepaskan tujuan alternatif
b.)    Ketakutan akan kegagalan
c.)    Minimnya pengetahuan tentang organisasi
d.)    Minimnya pengetahuan tentang lingkungan
e.)    Kurangnya percaya diri
  • Keengganan yang lazim dari para anggota organisasi untuk menerima rencana karena perubahan yang akan ditimbulkan.

Terdapat tiga alasan mengapa anggota organisasi dapat menolak perubahan – perubahan yang akan terjadi.
a.)    Ketidakpastian mengenai sebab dan akibat dari perubahan
b.)    Kengganan untuk melepaskan keuntungan yang ada
c.)    Kesadaran akan kelemahan dalam perubahan yang diusulkan


BAB IV


Pengorganisasian

          A.      PENGERTIAN ORGANISASI
Menurut James D. Mooney, pengertian organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai suatu tujuan bersama. Sementara menurut Chester I Barnard, organisasi didefinikan sebagai suatu system aktivitas kerja sama yang dilakukan oleh dua orang atau lebih.

Organisasi juga dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama. Berdasarkan definisi tersebut jelas bahwa dalam suatu organisasi paling tidak terdapat tiga element yang satu sama lainnya saat sulit untuk dipisahkan. Ketiga element organisasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Terdiri dari sekelompok orang.
2.       Adanya interaksi dan kerja sama.
3.       Memiliki tujuan bersama.
Element utama dari suatu organisasi adalah adanya sekelompok orang yang secara sadar menggabungkan diri dengan suatu ikatan norma,peraturan ketentuan,dan kebijakan yang telah diformulasikan dan masing masing pihak siap untuk menjalankannya dengan penuh tanggung jawab.
        Element kedua adalah bahwa dalam suatu organisasi yang terdiri dari sekelompok orang-orang yang saling mengadakan hubungan timbal balik,saling member dan menerima,dan juga saling bekerja sama untuk melahirkan dan merealisasikan suatu maksud (purpose), saran (objektif) dan tujuan (goal).
        Element terakhir adalah bahwa dalam suatu organisasi yang terdiri dari sekelompok orang yang saling berinteraksi dan bekerja sama tersebut diarahkan pada suatu titik tertentu yang merupakan tujuan bersama dan ingin direalisasikan.setip organisasi mempunyai tujuan tertentu yang teah diformulasikan secara bersama diantara orang-orang yang terikat didalamnya.Tujuan bersama yang hendak direalisasikan tersebut dapat merupakan tujuan jangka panjang maupun jangka pendek.termasuk juga tujuan-tujuan yang pencapaiannya secara rutin maupun tujuan-tujuan yang pencapaiaannya secara berkala saja.
        Dalam pengertian dinamis dan statis, organisasi memiliki arti yang berbeda pula.dalam arti dinamis,organisasi dapat diartikan sebagai suatu proses penetapan dan pembagian pekerjaan yang akan dilakukan,pembatasan tugas dan kewajiban,otoritas dan tanggung jawab serta penetapan hubungan diantara element element organisasi sehingga orang orang yang bergabung dalam organisasi tersebut dapat bekerja sama untuk merealisasikan tujuan bersama secara efisien dan efektif.
        Pengertian organisasi dalam arti statis merupakan suatu bagan atau rangka berwujud yang bergerak demi tercapainnya tujuan bersama,dalam istilah lain seringdisebut sebagai struktur atau bentuk organisasi jadi struktur organisasi itu sendiri merupakan manifestasi (bentuk nyata) organisasi ang menunjukkan hubungan antara fungsi-fungsi otoritas dan tanggung jawab yang saling berinteraksi dari orang-orang yang diberi tugas dsn tanggung jawab atas setiap aktivitas tertentu.Jadi,organisasi dalam arti dinamis lebih cenderung disebut sebagai suatu alat,sedangkan dalam arti stastis lebih cenderung disebut organisasi sebagai suatu wadah.


             B.      STRUKTUR ORGANISASI
Stuktur organisasi dapat didefinisikan sebagai suatu sistem atau jaringan kerja terdapat tugas - tugas, sistem pelaporan, dan komunikasi yang menghubungkan secara bersama pekerjaan individual dan kelompok. Oleh karena itu, sebuah struktur organisasi hendaknya menganalokasikan pekerjaan melalui sebuah divisi pekerjaan dan menyediakan koordinasi dari hasi-hasil kinerja sehingga sasaran organisasi terlaksana dengan baik. Bentuk dari pengalokasian pekerjaan tersebut dapat digambarkan ke dalam suatu struktur organisasi atau bagan organisasi.
                Berapa faktor yang menentukan perancangan suatu struktur organisasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.       Besar kecilnya organisasi. Besarnya organisasi secara keseluruhan maupun satuan-satuan kerjanya akan sangat mempengaruhi struktur organisasi. Semakin besar ukuran organisasi, maka struktur organisasi akan semakin kompleks, demikian juga sebaliknya.
2.       Strategi organisasi. Hasil penelitian yang dilakukan oleh chan-dler pada perusahaan-perusahaan industry di amerika menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara strategi dan struktur. Ia menyimpulkan bahwa struktur mengikuti srtategi.
3.       Teknologi. Perbedaan teknologi yang digunakan untuk menghsilkan barang-barang atau jasa akan membedakan bentuk struktur organisasi. Perusahaan yang menggunakan teknologi modern akan memerlukan struktur yang kompleks dibanding perusahaan dengan teknologi tradisional.
4.       Karyawan. Tingkat kemampuan dan keterampilan yang dimiliki oleh karyawan juga mempengaruhi bentuk struktur dari organisasi.




             C.      Pembagian kerja (DIVISION OF LABOR)
Seluruh tugas unit dipecah dalam beberapa pekerjaan yang lebih kecil yang berturutan atau tugas-tugas dibagi-bagi dan dikhususkan di antara orang-orang dalam unit itu disebut divi-sion of labor. Masalah yang berhubungan dengan pembagian pekerjaan bertautan dengan sampai seberapa jauh pekerjaan itu dispesialisasi sampai suatu tingkat dan kemampuan untuk membagi pekerjaan di antara banyak pemegang pekerjaan (job-holder)dalam keuntungan utama dari organisasi.

Kebanyakan manajer zaman sekarang menganggap spesialisasi kerja sebagai suatu mekanisme pengorganisasian yang penting, tetapi bukan sebagai sumber produkivitas yang terus-menerus meningkat. Mereka menyadari penghematan-penghematan yang ditimbulkannya dalam bebera jenis pekerjaan tertentu serta masalah-masalah yang ditimbulkannya apabila spesialisasi itu dilaksanakan terlampau ekstrem.
      Keuntungan yang diperoleh dari adanya spesialisasi pekerjaan adalah sebagai berikut:
1.       Jika suatu pekerjaan mengandung sedikit tugas, maka kita dapat dengan mudah melatih penggantinya bagi person yang diberhentikan, dipidahkan, atau mangkir. Kegiatan pelatihan yang sedikit akan membutuhkan biaya pelatihan yang rendah.
2.       Apabila suatu pekerjaan hanya memerlukan tugas yang sedikit jumlahnya, maka karyawan dapat menjadi ahli dalam melaksanakan tugas tersebut. Keahlian yang tinggi akan menghasilkan mutu ouput yang tinggi pula.




            D.      Departementalisasi (Departementalizatio)
Menggabungkan kembali dan mengelompokkan menjadi satu pekerjaan individual disebut sebagai departementalisasi. Dalam pengertian yang lain, departementalisasi diartikan sebagai upaya membagi-bagikan pekerjaan secara fungsional yang mempuyai spesipikasi tertentu, sifat dan batasan wewenang tertentu serta sarana dan prasana yang digunakan dalam kelompok kepemimpian dalam satu kesatuan kelompok aktivitas untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang telah ditentukan sebelumnya.
                Departementalisasi memberikan batas kekuasaan dan tanggung jawab pada setiap departemen yang akan dibentuk sehingga memudahkan karyawan dalam melakukan pekerjaannya sesuai dengan pembagian kerja (division of labor) yang ditetapkan. Keutungan lain yang diperoleh dengan adanya departementalisasi adalah adanya kemudahan dalam melaksanakan koordinasi. Karena fungsi dan ruang lingkup pekerjaan yang jelas.
                Praktik departementalisasi sering didasarkan ada berbagai kebutuhan sebagai:
1.       Departementalisasi Atas Dasar Teritorial atau Wilayah
Yaitu departementasi atas dasar penentuan porsi kekuasaan dan operasi daerah atau wilayah-wilayah. Hal ini dilakukan dengan cara pembentukan kelompok- kelompok atas dasar bidang geografis. Logikanya adalah bahwa semua aktivitas dalam daerah tertentu seharusnya ditugaskan  kepada seorang manajer. Manajer terebut akan bertugas melaksanakan seluruh operasi dalam bidang geografis tertentu.
Keuntungan dari pengelompokan ini adalah akan memberikan dasar pelatihan bagi tenaga manajerial. Organisasi dapat menampakkan para manajer di daerah dan kemudian menilai program dan kemajuan mereka dalam daerah geoggrafis ersebut. Pengalaman yang berhasil direktur para manajer di daerah yang secara geografis jauh dari kantor pusat memberi pandangan yang sangat berharga mengenai bangaimana produk atau jasa diterima di lapangan.


2.    Departementalisasi atas dasar produksi
Yaitu departementalisasi yang didasarkan atas jenis-jenis produk yang dihasilkan oleh perusahaan. Pada organisasi bisnis besar. Yang produknya benareka ragam, aktivitas dan tenaga kerjanya dikelompokkan atas dasar produk. Bentuk organisasi ini memungkinkan tenaga kerja untuk mengembangkan seluruh keahlinyannya dalam riset,membuat,dan mendistribusikan suatu lini produk.

3.       Departementalisasi Atas Dasar Pelanggan
Yaitu departementalisasi yang berdasarkan atas penggolongan atau pembagian kelompok menjadi pelanggan perusahaan atau orang yang membeli barang yang dijual oleh perusahaan. Pembentukan departementasi atas dasar langganan ini terutama digunakan dalam pengelompokan kegiatan-kegiatan penjualan atau pelayanan, dan diperlukan bila suatu divisi menjual sebangai besar atau semua produknya kepada suatu kelas langganan tertentu.

4.       Departementalisasi Atas Dasar Fungsi Organisasi
Departentalisasi fungsional mengelompokkan fungsi-fungsi yang sama atua kegiatan-kegiatan sejenis untuk membentuk suatu satuan organisasi. Individu-individu yang melakukan fungsi yang sama dikelompokkan bersama, seperti fungsi pemasaran,fungsi produksi, fungsi personalia, fungsi keuangan.

                  E.       Koordinasi dan Rentang Kendali
Kordinasi merupakan suatu proses menghubungkan atau mengintegrasikan bagia-bagian dalam organisasi agar tujuan organisasi dapat dicapai denga efektif.tanpa adanya kordinasi yang efektif, individu-individu \dan departemen-departemen akan kehilangan pegangan atas peranan mereka dalam organisasi.
        Menurut James D. Thomson, terdapat tiga macam saling ketergantungan diantara satuan satuan organisaasi, yaitu:
1.       Pooled Interdependence (saling ketergantugan yang menyatu )
2.       Ketergantungan semacam ini tidak membutuhkan interaksi dan ketergantungan ini terjadi apabila satuan-satuan  organisasi tidak saling tergantung satu sama lainnya dalam melaksanakan kegiatan harian, akan tetapi tergantung pada pelaksanaan kerja setiap satuan yang memuaskan untuk suatu hasil akhir.
3.       Sequential Interdependence (saling ketergantungan yang berurutan)
4.       Ketergantugan dalam bentuk ini ditandai dengan dipakainya output suatu bagian sebagai input bagian lainnya. Tingkat ketergantungan antar bagian lebih kompleks dibanding pooled interdependence, tetapi pengaruh masih bergerak satu arah.
5.       Reciprocal Interdependence (saling ketergantungan timbal balik)
6.       Ketergantungan semacam ini timbul apabila antara bagian saling mempengaruhi satu sama lainnya, dan terjadi hubungan saling memberi dan menerima dan menerima anrst satuan dalam organisasi.


              F.       Rentang Kendali Yang Efektif
Rentang kendali (span of control) yang dimaksud disini adalah jumlah karyawan yang melapor langsung pada seorang manajer. Apabila rentang kendali sifatnya sempi, maka hanya terdapat sedikit karyawan berada dibawah seorang manajer. Sebaliknya, rentan kendali yang melebar menunjukkan bahwa manajer mengendalikan bayak karyawan. Hal ini berarti bahwa keputusan tentang rentan kendali adalah menyangkut apakah organisasi akan lebih efektif apabila rentang kendalinya lebar atau sempit.
                Untuk mengetahui berapa jumlah potensi, yang hubungan yang mungkin terdapat antara seorang manajer dengan bahwa dapat dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:  
      R=N(2N/2+N-1)
 
Dimana:              
R=menunjukkan jumlah hubungan
N=jumlah bawahan yang ditugaskan pada kelompok komando menajer
                Contoh:
1.      Apabila jumlah bawahan sebanyak 5 orang, maka terdapat jumlah hubungan potensial sebagai berikut:
R = 3 (23/2+3-1)
    = 3 (8/2+3-1)
    = 18
2.      Apabila jumlah bawahan sebanyak 5 orang,maka terdapat jumlah hubungan potensial sebagai berikut:
R = 5 (25/2+5-1)
    = 5 (32/2+5-1)
    = 5 (20)
    = 100
       Perhitungan di atas mengasumsikan bahwa para manajer harus menghadapi tiga jenis hubungan sebagai berikut:
1.       Hubungan tunggal langsung, yaitu hubungan yang terjadi antara manajer dan masing-masing bawahan secara individual.
2.       Hubungan kelompok langsung, yaitu hubungan yang terjadi di antara manajer dan masing-masing permutasi (perubahan urutan dari masing-masing anggota kelompok) dari bawahan.
3.       Hubungan silang, yaitu apabila bawahan saling berinteraksi.




           G.     Sentralisasi dan Desentralisasi

Sentralisasi merupakan proses pemutasan wewenang dan tanggung jawab kepada manajemen puncak. Apabila manajemen puncak mengambil keputusan-keputusan penting organisasi tersebut dengan sedikit atau tanpa masukan keterlibatkan karyawan pada tingkat yang lebih rendah,maka organisasi tersebut telah tersentralisasi.
                Gibson, dkk telah melakukan pengamatan yang mendalam tentang hubungan antara sentralisasi dengan empat desain keputusan organisasi, antara lain menyebutkan:
1.       Semakin tinggi spesialisasi, semakin besar sentralisasi. Hubungan tersebut tetap karena pekerjaan yang sangat terspelialisasi tidak memerlikan keleluasan wewenang.
2.       Semakin sedikit wewenang didelegasikan, semakin besar sentralisasi. Menurut definisi istilah, sentralisasi lebih melibatkan penguasaan wewenang kepada manajemen puncak,daripada mendelegasikannya kepada manajemen jenjang lebih rendah.
3.       Semakin besar pemakaian departemen fungsional dan proses, semakin besar sentralisasi. Penggunaan departemen fungsional mengharuskan agar aktivitas beberapa departemen terkait terkoordinasikan. Kosenkuensinya, wewenang mengkordinasikannya tetap berapa pada manajemen puncak.
4.       Semakin luas rentan kendali, semakin berkurang sentralisasi. Luasnya rentang kendali berhubungan dengan pekerjaan yang relatif tidak dispesialisasi dan sangat membutuhkan kekuasaan pengendalian.
        Seberapa jauh tingkat desentralisasi juga dipengaruhi oleh beberapa faktor. Mamduh M.Hanafi mengamati ada tiga faktor utama yang mempengaruhi tingkat desentralisasi suatu organisasi yaitu ukuran organisasi, lingkungan, dan karakteristik lain seperti: budaya perusahaan, preferensi manajemen, kemampuan karyawan,dan biaya keputusan. Dalam prakteknya, desentralisasi dan sentralisasi merupakan dua titik ekstrem. Manajer dapat memiliki sejauh mana desentralisasi dapat dilakukan.


              H.     Bentuk-bentuk Struktur Organisasi
Hubungan fungsional dan non fungsional yang terdapat dalam suatu  organisasi dapat dilihat dari adanya hubungan kerja yang berbentuk dengan hubungan lalu lintas wewenang, hak dan tanggung jawab. Dalam hal ini, hubungan kerja tersebut bisa diamati dari struktur organisasi yang berbentuk sebagai berikut:
1.       Struktur Organisasi Garis
       Bentuk struktur organisasi semacam ini biasa digunkan pada lembaga atau perusahaan yang sederhana dan kecil. Hal ini dibutuhkan untuk mengambil tindakan dan keputusan yang cepat. Garis dalam hal ini diartikan sebagai garis atau jalur ke atas dan ke bawah, bukan ke samping. Ke atas sebagai jalur pelaporan tanggung jawab, sedangkan ke bawah adalah sebagai jalur pendelegasian tugas atau wewenang. Jadi fungsi yang di bawah adalah fungsi pertanggungjawaban langsung kepada atasan setingkat lebih tinggi.
        Ciri-ciri strukrur organisasi garis :
a.       Digunakan bagi organisasi yang masih sederhana dan kecil.
b.      Jumlah antar tenaga kerja atau karyawan sudah dapat saling kenal.
c.       Spesialisasi kerja masih belum tinggi.
d.      Digunakan bagi lembaga yang masih membutuhkan keputusan yang cepat.
Kelebihan struktur organisasi garis :
a.       Kesatuan komando dapat dengan mudah dilakukan karena di bawah satu komando.
b.      Pengambilan keputusan bisa lebih cepat.
c.       Rasa solidaritas antar karyawan tinggi.

Kelemahan struktur organisasi garis :
a.       Seluruh tenaga kerja biasanya selalu tergantung pada seseorang pemimpin sehingga jika pemimpin sehingga jika pemimpin berhalangan maka organisasi dapat mengalami kemacetan.
b.      Dapat menimbulkan sifat otokrasi pada pimpinan.
c.       Dilihat dari mekanisme kepemimpinan, bagi karyawan terciptanya kesempatan untuk berkembang.





BAB V


PENGARAHAN

A.      Pengertian Pengarahan

pengarahan adalah suatu proses pembimbingan, pemberi petunjuk, dan intruksi kepada bawahan agar mereka bekerja sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Pengarahan (Direction) adalah keinginan untuk membuat orang lain mengikuti keinginannya dengan menggunakan kekuatan pribadi atau kekuasaan jabatan secara efektif dan pada tempatnya demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Termasuk didalamnya memberitahukan orang lain apa yang harus dilakukan dengan nada yang bervariasi mulai dari nada tegas sampai meminta atau bahkan mengancam. Tujuannya adalah agar tugas-tugas dapat terselesaikan dengan baik. Para ahli banyak berpendapat kalau suatu pengarahan merupakan fugsi terpenting dalam manajemen. Karena merupakan fungsi terpenting maka hendaknya pengarahan ini benar-benar dilakukan dengan baik oleh seorang pemimpin. Karena pemimpin adalah manajemen  pengarahan yang berhubungan dengan usaha memberikan bimbingan dan saran kepada bawahan dalam pelaksanaan tugas masing-masing, maka pengarahan ada hubungannya dengan kepemimpinan atau seorang manager yang akan memberikan pengarahan dalam suatu organisasi atau perusahaan.

Pengarahan pada hakikatnya adalah keputusan-keputusan pimpinan yang dilakukan agar kegiatan-kegiatan yang direncanakan dapat berjalan dengan baik. Dengan pegarahan (directing) diharapkan :
1.       Adanya kesatuan perintah (unity of command)
Dengan pengarahan ini akan diperolah kesamaan bahasa yang harus dilaksanakan oleh para pelaksana. Sehingga tidak tercapai kesimpangsiuran yang dapat membingungkan para pelaksana.
2.        Adanya hubungan langsung dengan bawahan
Dengan pengarahan yang berupa peutnjuk atau perintah atasan yang langsung kepada bawahan, tidak akan terjadi miskomunikasi. Disamping itu pegarahan yang langsung ini dapat mempercepat hubungan antara atasan dan bawahan.
3.       .Adanya umpan balik yang langsung.
Pimpinan dengan cepat memperoleh umpan balik terhadap kegiatan yang dilaksanakan. Selanjutnya umpan balik ini dapat segera digunakan untuk perbaikan.
Salah satu alasan pentingnya pelaksanaan fungsi pengarahan dengan cara memotivasi bawahan adalah:
a)      Motivasi secara implisit, yakni pimpinan organisasi berada di tengah-tengah para bawahannya dengan demikian dapat memberikan bimbingan, instruksi, nasehat dan koreksi jika diperlukan.
b)       Adanya upaya untuk mensingkronisasikan tujuan organisasi dengan tujuan pribadi dari para anggota organisasi.
c)        Secara eksplisit terlihat bahwa para pelaksana operasional organisasi dalam memberikan jasa-jasanya memerlukan beberapa perangsang atau insentif.
Selain itu ada cara-cara pengarahan yang dapat dilakukan, diantaranya
1.       Orientasi merupakan cara pengarahan dengan memberikan informasi yang perlu supaya kegiatan dapat dilakukan dengan baik.
2.       Perintah merupakan permintaan dari pimpinan kepada orang ang berada dibawahnya untuk melakukan atau mengulangi suatu kegiatan tertentu pada keadaan tertentu.
3.       Delegasi wewenang, dalam pendelegasian wewenan ini pemimipin melimpahkan sebagian dari wewenang yang dimilikinya kepada bawahannya.




B.      Fungsi Pengarahan

Fungsi Pengarahan dan Implementasi adalah proses implementasi program agar dapat dijalankan oleh seluruh pihak dalam organisasi serta proses memotivasi agar semua pihak tersebut dapat menjalankan tanggungjawabnya dengan penuh kesadaran dan produktifitas yang tinggi. Kegiatan dalam Fungsi Pengarahan dan Implementasi yaitu mengimplementasikan proses kepemimpinan, pembimbingan, dan pemberian motivasi kepada tenaga kerja agar dapat bekerja secara efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan, memberikan tugas dan penjelasan rutin mengenai pekerjaan, menjelaskan kebijakan yang ditetapkan.
Pengarahan (leading) untuk membuat atau mendapatkan para karyawan untuk melakukan apa yang diinginkan dan harus mereka lakukan. Dikenal sebagai leading, directing motivating, atau actuating.
Pengarahan memiliki beberapa karakteristik :
1)      Pervasive function, yaitu pengarahan yang diterima pada berbagai level organisasi. Setiap menajer menyediakan petunjuk dan inspirasi pada bawahannya.
2)      Continous activity , pengarahan merupakan aktifitas yang berkelanjutan disepanjang masa organisasi.
3)      Human factor, fungsi pengarahan berhubungan dengan bawahan dan oleh karena itu berhubungan dengan human factor. Human factor itu sendiri adalah perilaku manusia yang kompleks dan tidak bisa diprediksi.
4)      Creative activity, fungsi pengarahan yang membantu dalam mengubah rencana kedalam tindakan. Tanpa fungsi ini seseorang dapat menjadi inaktif dan sumber fisik menjadi tak berarti.
5)      Executive function, fungsi pengarahan dilaksanakan oleh semua menejer dan executive pada semua level sepanjang bekerja pada sebuah perusahaan, bawahan menerima instruksi hanya dari atasannya.
6)      Delegatd function, pengarahan seharusnya adalah suatu fungsi yang berhadapan dengan manusia. atasan harus dapat mengetahui bahwa perilaku manusia merupakan suatu hal tidak dapat diprediksi dan alami sehingga atasan dapat mengkondisikan perilaku seseorang kearah tujuan yang diharapkan.

Fungsi pengarahan adalah suatu fungsi kepemimpinan manajer untuk meningkatkan fektifitas dan efisiensi kerja secara maksimal serta menciptakan lingkungan kerja yang sehat, dinamis dan lain sebagainya.
Pengarahan pada dasarnya berkaitan dengan
1) Faktor individu dalam kelompok
2)  Motivasi dan kepemmpinan
3) Kelompok kerja, dan
4) Kounikasi dalam organisasi





C.      Tujuan Pengarahan

Dengan adanya fungsi pengarahan dalam suatu organisasi dapat bertujuan sebagai berikut:
1.      Menjamin kontiunitas perencanaan,
2.      Membudayakan prosedur standar,
3.      Membina disiplin kerja,
4.      Membina motivasi yang terarah.
Selain itu tujuan pokok pengarahan agar kegiatan-kegiatan dan orang-orang yang melakukan kegiatan yang telah direncanakan tersebut dapat berjalan dengan baik dan tidak terjadi penyimpangan-penyimpangan yang membuat kemungkinan tidak akan tercapainya tujuan yang telah ditetapkan. 
Pengarahan dikatakan sebgai jantung dari proses manajemen. Oleh karena itu, pengarahan merupakan poin sentral dimana pencapaian tujuan merupakan hal yang penting. Sebagai karakter sentral, pengarahan menyediakan beberapa manfaat, meliputi :
1) Memprakarsai aksi (Initiatos Action)
Pengarahan merupakan suatu titik awal dari pelaksanaan kerja dari karyawan. Apabila pengarahan dijalankan, karyawan dapat mengerti pekerjaannya dan melakukan pekerjaan sesuai dengan instruksi.
2) Mengintegrasikan upaya (Integrates Efforts)
Selama mengarahkan, atasan dapat memberi petunjuk atau tuntunan, menginspirasi, dan memberi instruksi bawahan untuk bekerja. Untuk itu, usaha dari setiap individu harus sesuai dengan pencapaian tujuan yang diinginkan. Hal ini dimaksudkan agar upaya pengarahan dari setiap departemen yang ada dapat berhubungan dan berintegrasi dengan yang lainnya. Hal tersebut dapat dilakukan melalui “persuasive leadership” dan komunikasi yang efektif agar upaya integrasi dapat berjalan efektif dan stabil.
3) Alat memotivasi (Means of Motivation)
Manajer menggunakan elemen motivasi untuk meningkatkan pelaksanaan dari para karyawan.
4) Menyediakan stabilitas (Provides Stability)
Stabilitas dan keseimbangan menjadi sangat penting karena merupakan indeks pertumbuhan dari suatu perusahaan. Manajer harus dapat memiliki empat karakter yang dibutuhkan, yaitu persuasive leadership, komunikasi yang efektif, supervise yang tegas, dan koefisien motivasi.


5) Menaikan koping dengan perubahan (coping up with the change)
Perilaku manusia menunjukkan suatu tahanan untuk berubah. Adaptasi dengan perubahan lingkungan membantu dalam mendukung rencana pertumbuhan perusahaan. Pengarahan digunakan beradaptasi dengan adanya perubahan lingkungan baik internal maupun eksternal. Komunikasi yang efektif dapat membantu meningkatkan koping dengan adanya perubahan. Manajer berperan untuk mengkomunikasikan sifat dan isi dari perubahan secara jelas kepada bawahan.
6) Penggunaan sumber daya secara efisien (Efficient Utilization of Resources)
Pengarahan financial membantu dalam mengklarifikasi peran dari setiap karyawan pada pekerjaannya.
Melalui pengarahan, peranan karyawan menjadi jelas karena manajer melakukan pengawasan, memberikan petunjuk, instruksi, dan kemampuan motivasi untuk menginspirasi bawahan Hal ini dapat membantu dalam kemungkinan penggunaan sumber daya maksimum, baik itu pria, wanita, mesin, dan uang guna memperkecil biaya dan menambah profit.